Jakarta Three Fakta News-Tokoh Adat Maluku Barat Daya Ruben Kelabora, menyampaikan kekecewaannya karena masyarakat adat Pulau Marsela mengaku tidak dilibatkan dalam rangkaian acara groundbreaking Proyek LNG Abadi Blok Masela yang digelar di Desa Lermatang, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Menurut Ruben, masyarakat Pulau Marsela sejak awal mendukung penuh pembangunan proyek strategis nasional tersebut. Namun, ia menilai keterlibatan masyarakat adat yang nomenklatur melekat pada nama proyek itu belum mendapat perhatian yang layak.
“Kami sangat mendukung program pemerintah dan pembangunan Blok Migas Abadi. Yang kami sesalkan adalah masyarakat adat Pulau Marsela tidak dilibatkan dalam momentum peletakan batu pertama,” ujar Ruben Kelabora dalam keterangan tertulis dari Jakarta, Rabu (15/7/2026). Pukul 18:35 WIT.
Ia berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, SKK Migas, serta INPEX masih membuka ruang bagi masyarakat Pulau Marsela untuk turut hadir sebagai bagian dari sejarah dimulainya proyek tersebut.
Meski menyampaikan rasa kecewa, Ruben menegaskan, masyarakat Pulau Marsela tetap memilih menempuh jalan damai dan tidak akan melakukan tindakan yang dapat mengganggu jalannya pembangunan.
“Kami menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Kami tidak akan melakukan tindakan anarkis atau menghambat pembangunan. Kami tetap menghormati proses yang berjalan,” katanya.
Ruben juga mengingatkan agar kehadiran Proyek Blok Masela tidak memicu perpecahan di antara masyarakat Maluku, khususnya hubungan persaudaraan antara masyarakat Pulau Marsela dan masyarakat Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang telah terjalin sejak lama.
“Kami tidak ingin proyek ini menjadi sumber persoalan yang merusak hubungan emosional kami sebagai basudara. Persaudaraan harus tetap dijaga,” tegasnya.
Dalam pernyataannya, Ruben turut mengusulkan agar apabila masyarakat adat Pulau Marsela terus tidak dilibatkan, pemerintah mempertimbangkan penggunaan nomenklatur proyek yang tidak lagi memakai nama “Blok Masela”.
“Kalau masyarakat Pulau Marsela memang tidak dianggap sebagai bagian dari proyek ini, maka sebaiknya nama blok itu tidak lagi menggunakan nama Marsela. Bisa menggunakan nama lain sesuai lokasi yang dianggap tepat,” ungkapnya.
Meski demikian, Ruben menekankan, usulan tersebut merupakan bentuk kekecewaan atas minimnya pelibatan masyarakat adat, bukan penolakan terhadap investasi maupun pembangunan.
Ia kembali menandaskan dukungan terhadap Proyek LNG Abadi sebagai proyek strategis nasional, sembari berharap seluruh pemangku kepentingan dapat membangun komunikasi yang lebih inklusif dengan masyarakat adat Pulau Marsela.
“Kami tetap mendukung pembangunan. Harapan kami sederhana, masyarakat adat juga dihargai dan dilibatkan sehingga proyek ini benar-benar menjadi berkat bagi semua pihak, bukan menimbulkan perpecahan,” tutup Ruben Kelabora.
Catatan Kaki Ruben Kelabora:
Kehadiran individu atau pihak mana pun dalam seremoni peletakan batu pertama Proyek LNG Abadi Blok Masela, termasuk tamu undangan yang berasal dari Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) maupun daerah lainnya, tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai representasi resmi masyarakat adat Pulau Marsela maupun para tokoh adat yang memiliki legitimasi berdasarkan struktur dan mekanisme adat setempat.
Kehadiran mereka merupakan bagian dari undangan penyelenggara dan tidak dapat ditafsirkan sebagai bentuk keterwakilan atau persetujuan resmi atas nama masyarakat adat Pulau Marsela.

















