Saumlaki Three Fakta News -Di saat gelombang unjuk rasa penolakan Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Blok Masela riuh bergemuruh di Jakarta. sebuah fakta mengejutkan justru datang dari episentrum proyek.
Kepala Adat Desa Lermatang, Abraham Rangkoli, secara mengejutkan memasang badan dan menegaskan bahwa masyarakat adat di lingkar utama proyek 100 persen mendukung penuh megaproyek tersebut.
Pernyataan keras ini langsung mementahkan klaim para demonstran dan memicu tanda tanya besar: Siapa sebenarnya yang sedang berdemonstrasi, dan kepentingan siapa yang sedang mereka suarakan?
”Secara prinsip, masyarakat dan masyarakat adat Lermatang mendukung sepenuhnya 100 persen pelaksanaan Proyek Strategis Nasional Blok Masela,” tegas Abraham Rangkoli, mematahkan narasi penolakan yang berkembang di luar daerah.
Menolak Ditunggangi: Ada “Mastermind” di Balik Layar?
Aksi demonstrasi yang terjadi di kota-kota besar belakangan ini diduga kuat memiliki agenda tersembunyi, yakni menjegal momentum krusial peletakan batu pertama (groundbreaking) Blok Masela.
Lebih jauh, muncul indikasi kuat adanya keterlibatan elite lokal yang bertindak sebagai fasilitator dan sutradara di balik layar, memanipulasi isu demi kepentingan politik atau ekonomi pribadi.
Abraham mengakui, hubungan antara masyarakat adat dan pihak pengembang memang belum sepenuhnya sempurna. Namun, ia mencium adanya perbedaan mencolok antara tuntutan riil warga lokal dengan narasi ekstrem yang dibawa oleh para demonstran di luar Tanimbar.
”Memang ada hal yang belum sesuai harapan, namun kami akan sampaikan dengan cara yang baik dan tertib agar tidak menimbulkan perselisihan. Intinya kami tetap mendukung pembangunan ini,” cetusnya, mengisyaratkan bahwa masyarakat Lermatang enggan dijadikan alat politik.
Lebih jauh, Pernyataan menohok dari Kepala Adat Lermatang ini seperti membuka kotak pandora. Kini, bola panas menggelinding ke ranah hukum. Muncul desakan masif dari berbagai elemen agar aparat penegak hukum tidak tinggal diam melihat adanya potensi sabotase terhadap Proyek Strategis Nasional.
Intelijen TNI dan Kepolisian didorong untuk segera bergerak melakukan investigasi mendalam, melacak aliran dana, serta menangkap aktor intelektual yang diduga kuat mendanai dan menggerakkan unjuk rasa destruktif tersebut dari balik bayangan.
3 Kejanggalan Aksi Blok Masela yang Disorot:
Anomali Geografis: Aksi penolakan masif terjadi di Jakarta, sementara warga adat di lokasi utama proyek (Lermatang) justru menyatakan dukungan total.
Dugaan Sabotase Groundbreaking: Momentum aksi yang meledak tepat saat persiapan peletakan batu pertama mengindikasikan adanya upaya sistematis untuk menggagalkan investasi.
Penyimpangan Tuntutan: Isu yang dibawa di jalanan disinyalir telah melenceng jauh dari aspirasi murni masyarakat adat setempat.
Di akhir pernyataannya, Abraham Rangkoli mengingatkan semua pihak bahwa urusan adat dan hak masyarakat lokal adalah hal sakral yang harus diselesaikan lewat meja dialog yang elegan dan mekanisme hukum, bukan lewat kegaduhan jalanan yang sarat menunggangi kepentingan sepihak.

















