Banda Three Fakta News -Bayangkan perasaan Anda ketika melihat satu-satunya harapan untuk pulang ke rumah perlahan menjauh dari dermaga, sementara Anda hanya terpaku di daratan. Itulah drama memilukan yang dialami lima penumpang KM Pangrango di Pelabuhan Banda, Maluku Tengah. Jumat, (7/8)
Hanya dalam kedipan mata, kurang lebih 30 menit bersandar, kapal milik PT Pelni (Persero) itu langsung angkat sauh, meninggalkan jeritan kecewa penumpang rute Ambon – Tanimbar yang tak sempat naik kembali ke atas kapal.
Insiden ini kini menjadi sorotan tajam: Apakah jadwal pelayaran lebih berharga daripada hak dan keselamatan penumpang?
Ironi di Meja Informasi: Menyalahkan Korban, Membela Diri dengan Kebohongan
Bukannya mendapatkan solusi atau permohonan maaf, para penumpang yang tertinggal justru harus menelan pil pahit karena dibebani otoriter kesalahan.
Terlepas dari itu, saat dikonfirmasi oleh awak media, petugas yang bersiaga di loket informasi menunjukkan sikap yang jauh dari etika pelayanan publik.
Alih-alih menyadari kelalaian operasional karena memangkas waktu sandar menjadi hanya 30 menit, petugas tersebut justru menyerang balik dengan narasi yang menyudutkan penumpang.
Sikap defensif ini dianggap sebagai perlakuan yang tidak manusiawi, di mana petugas seolah-olah meletakkan seluruh beban kesalahan pada penumpang yang tercecer.
Lebih konyol lagi, muncul klaim sepihak dari pihak petugas yang bersikeras bahwa kapal telah bersandar selama satu jam penuh. Pernyataan ini berbanding terbalik dengan kesaksian telak di lapangan. Kebohongan publik ini mencoreng wajah PT Pelni dan menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menutupi pelanggaran SOP pelayaran.
Durasi ‘Singkat’ yang Mematikan Harapan
Lazimnya, raksasa besi seperti kapal penumpang membutuhkan waktu 2 hingga 4 jam untuk proses embarkasi, debarkasi, dan bongkar muat yang aman.
Namun, di Pelabuhan Banda, aturan tak tertulis itu seolah menguap. KM Pangrango dilaporkan hanya singgah sekejap sebelum kembali membelah lautan menuju Saumlaki.
Akibatnya fatal. Lima orang kini terlantar di Banda, terpisah dari barang bawaan mereka yang masih terbawa di dalam kapal, dan terjebak dalam ketidakpastian geografis Maluku yang luas dengan biaya tambahan yang membengkak.
Alarm Keras: Tuntutan Evaluasi Total Kru KM Pangrango
Insiden di Banda ini adalah Lampu Merah bagi manajemen pusat PT Pelni. Masyarakat Kepulauan Tanimbar kini mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh dan radikal terhadap seluruh kru KM Pangrango.
Tuduhan serius mengenai perilaku tidak jujur, sikap arogan, dan manipulasi data waktu sandar tidak boleh dibiarkan tanpa tindakan tegas.
“Jangan sampai ambisi mengejar ketepatan waktu dilakukan dengan cara menumbalkan penumpang di dermaga, lalu ditutup-tutupi dengan kebohongan petugas di loket informasi,” tegas salah satu keluarga penumpang dengan nada geram.
Publik kini menanti jawaban pasti: Apakah PT Pelni akan membiarkan oknum kru yang tidak profesional terus bekerja, atau berani melakukan pembersihan demi menjaga martabat transportasi laut nasional?
Satu hal yang pasti, bagi warga Maluku, KM Pangrango adalah urat nadi kehidupan, bukan sekadar ruang bagi oknum petugas untuk bersilat lidah.
















