Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Berita

Seorang Siswi Kehilangan Mata di Rujuk Pakai BPJS Tapi Ditagih Rp42 Juta, Butuh Bantuan Bupati Morut dan Gubernur Sulteng

1150
×

Seorang Siswi Kehilangan Mata di Rujuk Pakai BPJS Tapi Ditagih Rp42 Juta, Butuh Bantuan Bupati Morut dan Gubernur Sulteng

Sebarkan artikel ini

Morut Three Fakta News-Seorang pelajar inisial A, siswi kelas III A SMK Lembo Raya, warga Desa Korompeli, Kecamatan Lembo, Kabupatrn Morowali Utara (Morut), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), menerima kenyataan pahit akibat kehilangan mata kanannya, disebabkan terkena tembakan senapan angin saat bermain dengan rekannya.

Senapan angin yang digunakan dalam permainan tersebut, sempat dianggap tidak memiliki peluru. Namun, ternyata senapan tersebut masih mampu melontarkan proyektil dan mengenai bagian mata korban.

Example 300x600

Kondisi korban kemudian mengharuskan dirinya menjalani perawatan hingga operasi pengangkatan mata kanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Keluarga korban kini menjadi kebingungan, karena diperhadapkan dengan persoalan biaya pengobatan yang mencapai sekitar Rp42 juta. Di tengah kondisi tersebut, keluarga juga menghadapi sejumlah hambatan administratif. Salah satunya terkait permintaan kronologis kejadian dari pihak BPJS Kesehatan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Polsek Lembo dan diarahkan ke SPKT Polres Morut,” kata orang tua korban sambil meneteskan airmata ke media ini, Kamis (13/8/2026).

Ia menjelaskan, pihak kepolisian selanjutnya menerbitkan kronologis kejadian, yang diharapkan dapat membantu kelancaran proses pengobatan anaknya tersebut. Namun kata dia, persoalan baru muncul ketika keluarga hendak membawa korban pulang setelah selesai menjalani operasi.

“Tiba-tiba pihak Rumah Sakit memberitahukan adanya kewajiban pembayaran dengan rincian mencapai sekitar Rp42 juta. Rumah Sakit memberi batas waktu pembayaran Jumat, 14 Agustus 2026, untuk menyelesaikan biaya itu,” terangnya

Menurut orang tua korban, sebelumnya anaknya dirujuk dari Morut menggunakan ambulans rujukan dan didampingi perawat dari RSUD Kolonodale. Ia juga mengaku mendapat informasi bahwa pengobatan anaknya akan ditanggung melalui BPJS Kesehatan.

Sementara, Mastin Lamato, tante korban yang berada di RSUD Wahidin, mengaku kecewa sekaligus bingung dengan kondisi yang mereka hadapi.

“Sebenarnya korban keluar hari ini, tapi kendala soal pembayarannya yang kami harap ditanggung BPJS, tapi pada kenyataannya tidak seperti itu, dan rincian sementara sekitar Rp42 juta,” kata Mastin.

Awalnya kata Mastin, korban diantar ambulans rujukan dari Morut, didampingi bersama suster pendamping. Mereka sampaikan bahwa korban akan ditanggung BPJS Kesehatan.

Bagi keluarga sambungnya,persoalan biaya itu terasa semakin berat. Semua keluarga bukan hanya sedang berjuang mencari biaya, tetapi juga berusaha menerima kenyataan bahwa seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah kini harus menjalani hidup tanpa mata kanannya.

“Saya mewakili keluarga dan orang tua korban, sangat berharap butuh bantuan dan meminta perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Morut maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng),” harapnya.

Kalau bisa kata Mastin sambil terisak, bantu dulu kasian pak Bupati Morut, dr. Delis Hehi dan pak Gubernur Sulteng, Anwar Hafid, karena pihak Rumah Sakit hanya memberi waktu sampai besok tanggal 14 Agustus 2026.

“Saya punya kemenakan sudah kehilangan mata, sekarang kami menghadapi pergumulan, di mana mau ambil uang sebanyak itu?. Kalau kami tahu begini, kami tidak akan operasi mata keponakanku ini,” ungkap tante korban.

Sementara, orang tua dari pelaku penembakan yang sebelumnya telah sepakat menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan, juga tengah berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak RSUD Kolonodale.

Mereka juga mengaku bingung dengan proses rujukan yang diberikan sebelumnya, terlebih keluarga korban menyebut telah mendapat informasi bahwa pengobatan akan ditanggung BPJS Kesehatan.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi para orang tua, agar semakin ketat mengawasi anak-anak ketika bermain, terutama saat berhadapan dengan benda yang dapat membahayakan keselamatan.

Bagi keluarga A, luka itu bukan sekadar luka akibat sebuah kecelakaan. Mata kanan yang hilang menjadi kenyataan yang harus mereka terima seumur hidup.
Kini, setelah kehilangan penglihatan di satu sisi, keluarga hanya berharap jangan sampai mereka kembali kehilangan harapan karena persoalan biaya.

Sampai berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak RSUD Kolonodale terkait persoalan pembiayaan pengobatan korban tersebut.***/TiM

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!