Saumlaki Three Fakta News -Keheningan di bumi Duan Lolat mendadak diguncang oleh “hulu ledak” kritik tajam dari generasi muda, Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kepulauan Tanimbar secara resmi melayangkan surat terbuka yang isinya tidak sekadar mengkritik, melainkan menghantam keras pola kepemimpinan Bupati Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Ricky Jauwerissa.
Ketua DPD KNPI, Alexander F. Belay, S.Pi., secara frontal menyoroti intensitas perjalanan dinas luar daerah sang Bupati yang dinilai sudah berada di tahap “pemberosan akut” dan mati rasa terhadap krisis daerah.
Menyusu pada Kas Daerah di Tengah Paceklik Ekonomi
Menurut Alexander, dalam investigasi moral yang dituangkan melalui surat tersebut, KNPI membongkar fakta mencengangkan. Sang kepala daerah kedapatan melakukan perjalanan dinas ke luar daerah hingga tiga kali dalam sebulan. Ironisnya, aktivitas “terbang malam” ini terjadi justru di saat Kepulauan Tanimbar terseok-seok melakukan efisiensi anggaran akibat defisit.
”Uang daerah yang dihabiskan untuk biaya perjalanan dinas akan jauh lebih berdampak jika dialokasikan untuk pemenuhan hak-hak dasar masyarakat, perbaikan infrastruktur, serta stimulus ekonomi lokal yang saat ini sedang lesu,” cutus Alexander Belay dalam rilis resminya, Sabtu (6/6/2026).
Ia mengkritik, gaya kepemimpinan yang dinilai lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kabin pesawat ketimbang di atas tanah berlumpur Tanimbar ini, dianggap sebagai pengkhianatan terhadap semangat penghematan.
3 Tuntutan Radikal: Menuntut Pemimpin Kembali ke “Tanah Suci” Duan Lolat
Ledakan kritik KNPI ini membawa tiga tuntutan mutlak yang tidak bisa ditawar lagi oleh pihak eksekutif diantaranya:
(1).Moratorium Perjalanan Non-Esensial Menghentikan total plesiran dinas yang tidak memberikan dampak instan dan signifikan bagi kesejahteraan rakyat.
(2).Fokus Berdikari dari Dalam Menyelesaikan masalah struktural fisik dan kebijakan Tanimbar langsung di lapangan, bukan via remote control.
(3).Kehadiran Fisik Total Pemimpin harus hadir secara fisik sebagai suntikan moral di tengah masyarakat yang sedang dihantam krisis ekonomi.
“Tanimbar Tidak Bisa Dibangun dari Balik Kursi Pesawat!”
Kalimat pamungkas dalam surat terbuka tersebut laksana radiasi yang membakar kenyamanan birokrasi. KNPI menegaskan, bahwa nasib Kepulauan Tanimbar tidak akan pernah berubah jika arah kebijakannya dirumuskan di ruang-ruang pertemuan mewah di luar pulau, jauh dari realitas kemiskinan warganya.
Catatan Redaksi:
Kepulauan Tanimbar hanya bisa bangkit jika dipimpin dengan hati, komitmen, dan kehadiran nyata di atas tanah Duan Lolat. Kursi pesawat tidak akan pernah menghasilkan kebijakan yang membumi.
Kini, bola panas berada di tangan Bupati. Apakah kritik berdaya ledak tinggi dari pemuda ini akan direspons dengan evaluasi kebijakan yang bijaksana, atau justru diabaikan begitu saja di tengah deru mesin pesawat yang siap lepas landas kembali? Rakyat Tanimbar sedang menonton.***/TIM

















