Saumlaki Three Fakta News-Suasana kondusif di Bumi Tanimbar mendadak memanas menyusul statement kontroversial yang dilontarkan oleh seorang figur publik Kilyon Luturmas di WhatsApp Grup Suara Rakyat Tanimbar (SRT).
Pernyataan keras yang dikeluarkan Luturmas dinilai memuat narasi provokatif yang sangat berbahaya, bahkan berpotensi memicu mosi tidak percaya kepada pemerintah, memecah belah persatuan masyarakat adat, dan mengancam stabilitas nasional di wilayah lingkar tambang.
Secara terang-terangan, Kilyon Luturmas menyerang kebijakan pemerintah terkait persiapan lahan untuk opsi Onshore (darat) proyek strategis migas. Dengan nada menghasut, ia menuding pemerintah hanya memanfaatkan hak adat masyarakat Tanimbar sebagai “pion” permainan politik dan ekonomi yang bisa digeser sesuka hati tanpa adanya kepastian ganti rugi.
“Jangan hanya mau menjadikan hak adat masyarakat Tanimbar sebagai pion, yang mau digeser kemana saja ikut mau-maunya!” cetus Kilyon Luturmas dalam pernyataan tertulisnya yang bernada ancaman.
Menabur Benih Perlawanan dan Sumpah Serapah Angka Rp14.000
Lebih ngeri lagi, Luturmas mencoba membakar emosi massa dengan mengungkit luka lama terkait harga tanah di Pulau Nus Tual. Ia melabeli nilai ganti rugi sebesar Rp14.000 per meter bujur sangkar sebagai bentuk “penghinaan besar” yang tak bisa dimaafkan oleh masyarakat adat Bumi Tanimbar.
Provokasi ini dinilai sengaja digulirkan untuk menciptakan barikade perlawanan psikologis di tengah masyarakat, agar proses pengadaan lahan pemerintah di mana pun berada dipastikan akan berjalan *tidak kondusif* dan terus-menerus meneror pikiran warga.
Menantang Negara: “Silahkan Pindah Kemana Saja!
Seolah menantang otoritas negara, Luturmas dengan angkuh mempersilakan pemerintah untuk angkat kaki dan memindahkan opsi Onshore ke wilayah lain jika tidak menuruti kemauannya. Ia bahkan menyeret nama Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) dalam pusaran konflik ini.
Dengan narasi yang menyudutkan, ia menyindir kesiapan Bupati MBD yang bersedia memberikan lokasi secara cuma-cuma. Luturmas menuduh bahwa di MBD pun, tanah-tanah bentukan kabupaten awal hingga kini masih menyisakan sengketa darah dan air mata berupa gugatan masyarakat yang tak kunjung usai.
“Mau ambil risiko untuk memindahkan tempat ke MBD sebagai tempat Onshore migas tersebut, disilahkan saja! Untuk tidak membuang energi masyarakat adat atas tanah di Tanimbar,” tantang Luturmas dengan narasi yang siap mematangkan konflik antar-wilayah.
Ancaman Nyata Pembelahan Sosial
Pengamat menilai, gaya komunikasi yang dibangun oleh Kilyon Luturmas bukan lagi sekadar kritik konstruktif, melainkan sebuah desain provokasi yang rapi untuk memecah belah hubungan antara negara dan rakyatnya. Jika narasi beracun ini dibiarkan menggelinding liar tanpa ada tindakan tegas dari aparat penegak hukum, maka proyek strategis nasional yang menjadi tumpuan masa depan ekonomi daerah terancam lumpuh total akibat konflik horizontal yang sengaja disulut.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh manuver-manuver personal yang berpotensi merugikan kepentingan publik yang lebih besar.
Mari kolaborasi lebih lanjut. Jika Anda ingin mempertajam diksi di bagian tertentu atau menambahkan detail latar belakang, silakan sampaikan langsung.***/TIM

















