Ambon Three Fakta News -Di tengah memanasnya sengketa lahan yang membayangi Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) melontarkan pernyataan yang berpotensi mengubah peta investasi energi terbesar di Indonesia Timur.
Bupati Maluku Barat Daya, Benyamin Thomas Noach, menegaskan bahwa daerahnya siap menjadi lokasi pembangunan fasilitas darat (onshore) LNG Masela apabila persoalan pembebasan lahan di Tanimbar tidak kunjung menemukan titik terang.
Pernyataan tersebut muncul ketika tahapan groundbreaking proyek raksasa bernilai miliaran dolar itu semakin dekat, sementara konflik agraria di kawasan ring satu proyek terus memicu ketidakpastian.
“Kalau Kabupaten Kepulauan Tanimbar memang bermasalah untuk pembangunan Onshore LNG Masela karena persoalan lahan, maka Kabupaten Maluku Barat Daya siap seribu persen menjadi lokasi pembangunan,” tegas Benyamin melalui pesan singkat, sebagaimana dilansir pewartamedia.com.
Konflik Lahan Jadi Ancaman Serius
Polemik yang berkembang di Tanimbar bukan lagi sekadar persoalan administratif. Sengketa kepemilikan lahan kini dinilai berpotensi menjadi batu sandungan serius bagi kelangsungan proyek energi nasional yang selama ini digadang-gadang sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi Maluku.
Sejumlah kelompok masyarakat adat menolak proses pemanfaatan kawasan yang dinilai belum sepenuhnya mengakomodasi hak-hak masyarakat pemilik tanah ulayat.
Di sisi lain, muncul dugaan penguasaan lahan dalam skala besar oleh pihak swasta di area yang direncanakan menjadi lokasi pembangunan fasilitas onshore.
Berdasarkan informasi yang berkembang, seorang pengusaha lokal berinisial AT disebut menguasai lebih dari 1.000 hektare lahan di kawasan strategis proyek. Kondisi tersebut memicu gelombang protes dari warga yang menganggap hak-hak mereka terpinggirkan dalam proses pengadaan lahan.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa ketidakpastian hukum dan konflik sosial yang berkepanjangan dapat mengganggu jadwal pembangunan fisik Blok Masela yang telah ditetapkan pemerintah pusat.
MBD Kirim Pesan Tegas: Jangan Sampai Masela Keluar dari Maluku
Bagi Pemerintah Kabupaten MBD, persoalan utama bukan semata lokasi pembangunan, melainkan memastikan investasi raksasa tersebut tetap berada di Provinsi Maluku.
Benyamin mengingatkan bahwa apabila konflik lahan terus berlarut-larut, pemerintah pusat berpotensi meninjau ulang skema pengembangan proyek, termasuk kemungkinan mengembalikannya ke konsep offshore atau bahkan mempertimbangkan lokasi alternatif di luar Maluku.
Karena itu, MBD menyatakan telah menyiapkan berbagai prasyarat apabila sewaktu-waktu pemerintah pusat membutuhkan opsi baru untuk pembangunan fasilitas darat LNG Masela.
Menurut pemerintah daerah, kesiapan lahan, dukungan masyarakat, serta komitmen pemerintah setempat menjadi modal penting untuk menjamin keberlanjutan proyek strategis tersebut.
Taruhannya Bukan Kecil
Blok Masela selama ini diproyeksikan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi terbesar di kawasan timur Indonesia.
Apabila proyek mengalami hambatan serius, Maluku berisiko kehilangan berbagai manfaat ekonomi strategis, mulai dari masuknya investasi berskala besar, terbukanya ribuan lapangan kerja, hingga percepatan pembangunan infrastruktur pendukung di berbagai wilayah.
Sebaliknya, keberhasilan proyek diyakini akan menciptakan efek berantai bagi pertumbuhan ekonomi daerah, peningkatan aktivitas usaha masyarakat, serta penguatan posisi Maluku sebagai pusat industri energi nasional.
Menunggu Ketegasan Pemerintah Pusat
Hingga kini, masa depan pembangunan fasilitas onshore LNG Masela masih sangat bergantung pada penyelesaian konflik lahan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Pemerintah pusat dituntut segera menghadirkan solusi yang transparan, adil, dan memiliki kepastian hukum bagi seluruh pihak agar proyek energi terbesar di Indonesia tersebut tidak tersandera oleh sengketa yang berkepanjangan.
Di tengah kebuntuan yang belum terurai, pernyataan MBD siap mengambil alih lokasi pembangunan menjadi sinyal kuat bahwa daerah lain di Maluku tidak ingin melihat peluang emas bernama Masela hilang begitu saja.***/TIM

















